PEWAHYUAN ALQUR’AN

A.    PENDAHULUAN
Al qur’an di turunkan kepada nabi muhammad SAW, melalui malaikat jibril, tidak sekaligus, melainkan turun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, sering  wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang di lontarkan kepada nabi atau untuk membenarkan tindakan nabi SAW. Di samping itu, banyak pula ayat atau surat yang di turunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian tertentu. Dan allah menurunkan wahyu kepada para rasulnya dengan dua cara; Ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.

B.     PEMBAHASAN
1.      Arti wahyu
Al wahy (wahyu) adalah kata masdar (infinitif). Dia menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, dikatakan, “Wahyu ialah informasi secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. inilah pengertian dasarnya (masdar). Tetapi terkadang juga bermaksud al-muha, yaitu pengertian isim maf’ul, maknanya yang diwahyukan.[1] Sedangkan wahyu allah kepada para nabinya, secara syariat mereka definisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi.
Ustadz muhammad abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalah At-Tauhid sebagai “ pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan suatu keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari allah, baik dengan melalui perantaraan ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau bahkan tanpa suara. Sehingga bedanya antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang di yakini oleh jiwa yang mendorong untuk mengikuti apa yang di minta, tanpa sadar dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih, dan senang.[2]
Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian mashdar. Bagian awal definisi ini  mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf. Tetapi perbedaannya dengan ilham di akhir definisi  tadi menafikan kemiripan ini.

2.      Cara wahyu Allah turun kepada malaikat
Di dalam al-Qur’anul karim terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikatnya:
ِاذْ يُوْحِىْ َرُّبكَ ِالَى اْلَملاَ ِئكَةِ اَنِّي َمَعكُمْ َفَثّبَتُوْا الّدَِيْنَ َاَمُنوْا     (الانفل: ) 
"Ingatlah ketika tuhanmu mewahyukan kepada malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, teguhkan pendirian orang-orang yang beriman’ “ (al anfal [8]:12)

Nas-nas diatas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu.
Telah nyata pula bahwa Alquran telah dituliskan di lauhil mahfuz,
بل هو قران مجيد, في لوح محفوظ    (ابروجز)
“Bahkan ia adalah Quran yang mulia yang tersimpan di lauhil mahfuz”(al buruj[85]:21-22)

Oleh sebab itu, para ulama’ berpendapat mengenai cara turunya wahyu Allah yang berupa quran pada jibril dengan beberapa pendapat;
a.       Bahwa jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
b.      Bahwa jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz.
c.       Bahwa maknanya disampaikan kepada jibril, sedang lafalnya adalah lafal jibril, atau lafal Muhammad SAW.
Pendapat pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh ahlussunah waljama’ah, serta diperkuat oleh hadist nawas bin sam’an;
فصل القران من الد كر فو ضع في بيت العز ة من السما ء الد نيا فجعل جبر يل ينزل بة عل النبي صلى اللة علية وسلم.                                     
                                                                                               
“Telah dipisahkan qur’an dari az Zikr, lalu diletakkan di baitul izzah dilangit dunia, kemudian jibril menurunkannya kepafa nabi saw”.[3]

3.  Cara Wahyu Allah Turun kepada Para Rasul
Allah memberikan wahyu kepada para RasulNYA ada yang melalui perantara dan ada yang tidak melalui peranta.
Yang pertama, melalui jibril, malaikat pembawa wahyu.
Yang kedua, tanpa melalui perantaraan, diantaranya ialah mimpi yang benar dalam tidur.
a.       Mimpi yang benar dalam tidur.
“Dari Aisyah ra, dia berkata; sesungguhnya apa yang mula-mula yang terjadi bagi rasulullah SAW adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu dating bagaikan terangnya pagi hari.”[4]
b.      Kalam illahi dari balik tabir tanpa melalui perantara. Yang demikian itu terjadi pada musa as.
 َوَلمّاَ َجَاءَ مُوْسَىْ ِلِميْقَاِتنَا َوَكلَّمَةُ َربُّةُ َقالَ رَبِّ َاِرِنْي َانْظُرْ ِالَيْكَ   (الاعرف  )                 

 “Dan tatkala musa datang untuk munajat dengan kami di waktu yang telah Kami tentukan dan tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata, ‘Wahai Tuhan,tampakkanlah Diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-MU’.”(Al-a’rof 143).

Dijelaskan pula dalam Qur’an surat An-nisa’ ayat  164 ;
( النساء )           َوَكلَّمَ اللَّةُ  ُمْوَسْى  َتكْلِيْمًا
“Dan Allah telah berbicara kepada musa secara langsung.”(An-nisa’ 164).
Demikian pula menurut pendapat yang paling shahih, Allah juga pernah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad SAW pada malam isra’ dan mi’raj.

4. Cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada rasul.
         Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya itu adakalanya tanpa perantaraan, seperti yang telah kami sebutkan di atas, misalnya mimpi yang benar di waktu tidur dan kalam illahi dari balik tabir dalam keadaan jaga yang di sadari: dan adakalanya melalui perantaraan malaikat wahyu.
         Ada dua cara penympaian wahyu oleh malaikat kepada rasul:
         Cara pertama: Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor  kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima, menghafal, dan memahaminya.
Cara kedua: malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikian itu lebih ringan dari pada cara yang sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar.  
         Keadaan jibril menampakkan diri seperti seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia melepaskan sifat kerohaniannya. Dan tidak pula berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang di maksudkan ialah bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk menyenangkan rasulullah SAW sebagai manusia.
         Alqur’an di turunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Romadhon tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.[5]
5.  Keraguan Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu
         Orang-orang jahiliyah baik yang lama atupun yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Bentuk-bentuk keraguan itu antara lain:
a.       Mereka mengira bahwa Qur’an dari pribadi Muhammad; dengan menciptakan maknanya dan dia sendiri pula yang menyusun ” bentuk gaya bahasanya”; Qur’an bukanlah Wahyu. Ini adalah sangkaan yang bathil.
b.      Orang-orang jahiliyah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa rasulullah SAW mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham(inspirasi), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Qur’an itu tidak lain dari pada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang di ungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retorikanya.
c.       Orang-orang jahiliyah dahulu dan sekarang menyangka bahwa Muhammad SAW telah menerima ilmu-ilmu Qur’an dari seorang guru. Yang demikian itu adalah benar; akan tetapi guru yang menyampaikan Qur’an itu ialah malaikat wahyu; dan bukannya guru dari golongannya dan golongan lain.

6.  Pembahasan lafal  nazzalna dengan angzalna.
      Dengan adanya keraguan terhadap wahyu oleh Orang-orang kafir pada saat itu, maka di jawablah oleh Allah SWT dalam Qur’an surat Al-isro’ayat 105:
وبا الحق انزلنه وبا الحق نزل  (الا سراء)                                       
 “Dan kami turunkan Al-Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan membawa kebenaran. (Al-isro’ ayat 105.)

Jadi Al-Qur’an benar-benar wahyu dari Allah SWT yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW, sehingga sekeras apapun orang-orang kafir mengingkarinya, tetap saja bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.
Dari ayat di atas ada perbedaan antara angzala dengan nazala, karena proses turunnya Al-Qur’an kepada nabi Muhammad SAW adalah melalui tiga tahapan, yaitu:[6] 
Pertama, Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah SWT  ke  lauh al-mahfudz[7], yaitusuatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dankepastian Allah SWT. Dan proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S. Al-buruj ayat 21-22:
بل هو قران مجيد . في لوح محفوظ  (البروج)                          
 “Bahkan yang di dustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang tersimpan dalam lauh al-mahfudzh.(Q.S Al-buruj 21-22).

Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari lauh mahfudz itu ke  bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia). Proses kedua ini diisyaratkan oleh Allah dalam surat Al-Qodar ayat 1:
انا انزلنه في ليلة القدر  (القدر)                                        
 Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemulyaan.(Q.S Al-Qodar ; 1)

Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati nabi dengan jalan ber angsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam surat Asy-Syu’ara ayat 193-195:
نزل به الروح الامين . على قلبك لتكون من المنذرين  . بلسا ن عربي مبين  .(الشعراء)
 
“Dia dibawa turun oleh  ar-ruh al-amin kedalam hati Muhammad agar kamu menjadi salah seorang di antara orang yang member peringatan, dengan bahasa arab yang jelas .(Asy-Syu’ara 193-195).

Dari tahapan turunnya Al-Qur’an terdapat perbedaan antara               lafal انزلنا  dengan نزلنا , pada tahap pertama dan kedua Al-Qur’an turun secara sekaligus atau secara دفعة واحدة     sehingga menggunakan lafal  انزل  ينزل  انزا ل ( turun 30 juz pada malam lailatul qodar), dan pada tahap ketiga Al-Qur’an turun secara ber angsur-angsur, sehingga menggunakan lafal  نزل  ينزل  تنزيل    turun dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari.[8]

C.    Kesimpulan
1.      Wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus di tujukan kepada orang yang di beritahu tanpa diketahui orang lain
2.      Cara wahyu Allah turun kepada Malaikat, ada beberapa nas-nas Al-qur’an dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang di pahami oleh para malaikat itu.
3.      Cara wahyu Allah turun kepada para Rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.
4.      Cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul terdapat dua cara;
·         Cara pertama: Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi factor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat bagi Rasul.
·         Cara kedua; Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikain itu lebih ringan darai pada cara yang sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar.
5.      Fenomena kewahyuan bagi masyarakat arab pada masa Rasulullah baik yang lama ataupun yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong.

D.    Penutup
       Demikianlah susunan makalah yang kiranya kami sajikan, kami sadari didalamnya masih banyak kekurangan yang kemungkinan bahasannya kurang mendetail secara keseluruhan, karena sifat penulis yang manusiawi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bermanfaat secara umum pada semua pembaca, sehingga dapat dikaji secara maksimal. Jikalau didapati kekurangan, saran serta kritikknya slalu kami nantikan untuk menjadi evaluasi agar bisa lebih baik lagi nantinya.

E.     Daftar Pustaka
§  Manna’ Khalil al-Qattan, Studi ilmu-ilmu Qur’an, Litera AntarNusa, Bogor: 2001
§  Manna’ Khalil al Qattan, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, Pustaka                Al Kautsar, Jakarta;2009
§  Rosikhon Anwar, Ulum Al Qur’an, Pustaka Setia, Bandung:2008
§  Subhi As-shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta:1993


[1]    Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Al-qur’an, Aunur rafiq El-mazni, jakarta, t.t., hlm. 34.
[2]    Lihat; Al-wahyul Muhammadi/Syaikh Muhammad Rasyid Ridha/44.
[3]  Hadist Hakim dan Ibn Abi Syaibah
[4]   Muttafaq alaih.
[5]    Hudhari Bik, Tarikh Al-tasyri’ Al-Islami, terj. Muhammad Zuhri, Rajamurah Al-Qona’ah,1980,hlm 5-6.
[6]      Ibid.,hlm. 45; Subhi Ash-Shahih, Mabahit fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin, Bairut, 1988, hlm 51.
[7]      Lauh mahfudz adalah sebuah catatan yang di dalamnya terdapat catatan mengenai segala segala sesuatu yang    eksis dan yang ditulis sejak zaman azali.
[8]     Hudhari Bik, Tarikh Al-tasyri’ Al-Islami, terj. Muhammad Zuhri, Rajamurah Al-Qona’ah,1980,hlm 5-6.

أثر الشريعة تربية الخلق


ا.   المقدمة
الاسلام يرشد الناس  فى جمع نوا حى الحياة. هو يرشه الناس الى الاخلاق الكريمه اِما بخالقه واما بالناس بعضهم بعضا، بل يرشدالناس ليتخلقوا بجميع مخلوقات الله.

ب. المقالة
والشريعة الإسلامية لها جانب تربوي، يتضح في أسلوبها حين تعرض عن طريق الترغيب والترهيب،  أوأخذ العبرة من التاريخ، أو الحضّ على التقوى ومخافة الله، ولذلك نجد  كثيرأ من الأحكم يعللها القرآن تارة ب ((لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)) (البقرة : 21 ومواضع كثيرة في القرآن)، وتارة بالتطهير والتزكية ((خُذْ مِنْ أَمْوالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهَّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا)) (التوبة : 103) وتارة ... وتارة ...
وللشريعة جانب تطبيقي يتجلّى في الأمر وتالنهي، والتحريم، والتحليل، والاباحة والحضر، والحدود، والعقوبات، والقصاص، والإرشاد إلى نيفيات وأساليب عملية أو تعاملية معينه، في البيع والزواج وسائر العقود، وكثير من أموور الحياة.
1.  الشريعة ضابط خُلُقي للفرد
عندما تتتمكن تعاليم الشريعة من نفس الفرد ومشاعره تصبح بمثابة ضابط خلقي، يحاكم المرء نفسه إليه، عندما يقف أمور مشتبهات، كبعض أساليب البيع والشراء، وكذم  الإنسان يجاهر بالمعصية، ونحو ذلك، والضابط  الخلقي هنا  غير الوازع التربوي الدين، فالوازع يبعدك عن موضوع المحرنات بالكلية، ولكن الضابط هو الذي يقول لك بدقة : هذه حدود المحرمات في  البيوع، فلا تقرب منها، والنظرة سهم مسمو فضن نفسك عن النظر إلى الأجنبيات، فإذا اضطرت من أجل معرفة الشجص فلك النظرة الأولا.
وكان  المجتمع الإسلامي يشترط حدًّا أدنى من معرفة أحكام الشرع، فلا يدخل السوق، مثلاً، من لم يعرف الحلال والحرام من البيوع.
لذلك كانت  تربية هذا الضابط تتم في حلقات العلم، وكان جميع الناس يقضون أمسياتهم في حلقات العلم، فلا عمل بعد الغروب إلا طلب العلم، والمساجد  التى تتسع لصلاة جميع الناس، هي التى تتسع لتعليم كل الناس، والدافع  الحقيقي لهذا الضابط هو الخوف من الله، فلايحاول المسلم التهرب من الشرع أو الاحتيال عليه، وهذا هي الميزة الأساية التى الشرع عن القانون.
2.  الشريعة ضابط اجتما عي
وعندما يكثر تداول  أحكام الشريعة، على المستوى الاجتماعي، في حلقات الوعظ وخطب المنابر، تصبح بعض هذه الأحكام أعرافأَ ومصطلحات اجتماعية فعندما كنت طفلاً كان يُعيُّر بعضُ الناس في دمشق بأنه (فوايزيّ) أي ربويّ يأكل  الربا، وكنت هذه اللفظة بغيضة مقيتة، إذا أطلقت على شخص تحاشاه الناس، وهذا يدل على أن المجتمع يدافع عن كيانه الديني حين يمنع المجاهرة باقتراف المحرّمات، فيحتقر السكّير والفاسق والمجاهر بالمعاصي، والمرأة الموس.
وقد ربّى الإسلام هذه الفطرة الاجتماعية، فنظّم الأمر بالمعروف والنهي  عن المنكر وحضّ على ذلك، وجعل تركه من علامات انهيار المجتمع، قال تعالى : ((لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَروا مِنْ بَنِي إِسْرائيلَ عَلى لِسانِ داوُدَ وَعيسى بْنُ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانَوا يَعْتَدونَ، كانوا لا يَتنَا هَوْنَ عَنْ مُنْكرٍ فَعَلوهُ لَبِئْسَ كانوايَفْعَلُوْنَ)) (المائدة : 88 و 89). وعن  أبي عن رسول الله صلى الله عليه وسلّم "إِن الناس إِذا رأوا للمنكر فلم يغيرو ه أوشك أن يعمّهم الله بعقابة" أحرجه الإمام أحمد في المسند (1/1).
3.  الشريعة ضابط سياسي
عندما تتولى السلطة تنفيذ أوامر الشريعة، تصبح تعاليم الشريعة، سلوكأ سياسياً تسلكه الدولة مع حميع رعاياها، فتقطع يد السارق، وترجم الزاني وتمنع الحمر، والتبرج، والحلاعة، و الظلم، والبغي بغير الحق، وتراقب الباعة  فتمنع الغش والاحتكار، وتنشر العلم، وتحيط المدارس بعناية وتوجيهات دينية خاصة، وترسل الدعاة إلى الله، وترفع راية الإسلام، وتوجّه وسائل الإعلام توجيهأ إسلامياً.
ويتربّى الناشئ في هذا الجو على  المعاني الإسلامية يستقيها من منزله، ومدرسته، ومن النداءات التى تتعالى في المآذن ومن منابر المساجد، ومن الإذاعق، والرأي، ومن كل شيء يحيط به فلا يقع بصره إلا على معروف، ولا يطرق سمعه شيء ينكره الإسلام، أو يغضب الله، ولا تحدثه نفسه بمعصية، مادامت هيبة الدولة المسلمة، وهيبة المجتمع المسلم يرَّدَعَانِه عن ذلك.
فإذا وقع في معصية، سترها وندم وتاب وعاد إلى جادة الصواب، فيتوب الله عليه إن كان لايجهربها، ثم أقلع عنها.
وهكذا نرى أن الشريعة الإسلامية تربّي الناس بثلاتثة  أساليب :
1) أسلوب تربوي نفسيِّ ينبغ من داخل النفس، ضابطه الخوف من الله ومحبته، وتطبيق شريعته اتقاء لغضبه وعذابه ورغبة في ثوابه، وهذا الأسلوب قدتخبو جدوته أحيانا عند بعض الناس، أو يفقده من لم يتمكن الإيمان من ق لبه، فيسوّل نفسه  له العبث مجرمات الإسلام، ويطمع بالمال الحرم أ الشهوات المحرمة من كان في قلبه مرض، فتعالجه الشريعة بالأسلوب الثاني.
2) التناصح الاجتماعي والتوصي بالحق والتواصي بالصبر، فالمجتمع الغيور على شريعة الله وحرماته لايدع منكرا، ولا يقرّ على ترك أصل من أصول الإسلام كاصلاة والزكاة والصوم، والجهاد، بل يأمر المقصر، ويأخذ بيده، ليعينه على نفسه  أو على تربية أولاده.
3) وازع السلطة التنفيذية  أي  الدولة المسلمة التي تنفذ أحكام الشريعة، الأمن، ويسود سلطان الشرع، وينعم الناس بعدل الشريعة.
وهذه الأساليب الثلاثة تتعاون على تحقيق المعان الإسلامية وتطبيقها في حياة الفرد والجماعة والدولة، فتصبح هذه الحية أقرب ماتكون إلى الكمال والسعادة والحضارة والرخاء والتكافل والطهأنينه والاستقامة.
وتنبع أصاالة الشريعة الإسلامية من اعتمادها على الإيمان بالله، وعبادته، والحوف منه، وعن هذه الأصالة يصدر المجتمع في تقاليده وأعرافه الإسلامية، كمايصور الفرد في سلوكه، وأمانته، وأنضباطه الذاتي، وإقباله على تعلم الشريعة، وتطبيق أحكامها على نفسه، دون حاجة إلى رقيب، أو جلاد رهيب، يدعُّه إلى تنفيذ الأوامر دعَاً، كما يحدث لدى  الإمم ذات القوانين الوضعية.
وهذه هي أعظم ميزة الشرع الإسلامي عن القوانين البشرية الوضعية.

ج. المفراد الصعبة
§      يتصح
§      مخافة
§      يتجلّى
§      يحاكم
§      يقف
§      التهرب
§      صيبة الدولة المسلمة
§      أقلع
§      فتسوّل
§      العبث
§      يطمع
§      الغيور
§      فيستتب
§      ينعم
§      تطبيق
§      انضباط
§      القوانين

د.  الأسئلة
1.  جاز علينا اذا نخلف أحكام الشريعة ؟
2.  كيف نتخلق بأحكم الشريعة ؟
3.  كم أساليب نرى ان الشريعة تربّى اناس ؟

هـ.  الأراء
ضابط الشريعة انواعٌ :
1.  الشيعة ضابط خلقى للفرد
2.  الشيعة ضابط إختماعى
3.  الشيعة ضابط سياسى
و.  أختئام
قدا نتهى صبا حثتنا عن العقيدة الصحيحة، وبعدا ان نبحث وتقراُون هذه  المقالة ماذا وجد ثم الخكاء فى كتابها ةاوجد ثم المشكلات من الكليمات نطلب العفو والسماعة منكم، و ترجوالله ان يرزقنا علما نافعامبارطا من علوم الدين و فهما واسعا فى تدبره. آمين.

ز.  المراحيع
- التربية الاسلامية واساليبها؛ دارالفكر – دمشق – سورية.

Muria Green House

go green indonesia!!!!!

Pengunjung Online

Web Link Exchange
Copyright © 2012 .:k.a.l.i.m.a.s.a.d.a:. All rights reserved.
Wordpress Theme by Templatesnext . Blogger Template by Anshul Dudeja